.

Profil Rumah Tajdid Profetik

PROFIL RUMAH TAJDID PROFECTIK

Kerja intelektual adalah kerja seumur hidup. Kearifan umumnya diraih dari kumulasi ilmu, pengalaman, wawasan, dan pergaulan serta dialog antar peradaban dalam jarak radius yang hampir tanpa tepi (Prof. Dr. Ahmad Syafii, Ma’arif: Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Organisasi ummat Islam sejak kelahirannya, memproklamirkan diri sebagai organisasi tajdid adalah Muhammadiyah (Prof. Dr. Al Yasa’ Abu Bakar: Ketua PW Muhammadiyah Aceh 2010-2015)

PENGERTIAN

Komuinitas Rumah Tajdid Profetik merupakan ide atau kreasi dan wacana anak-anak muda yang meminati kajian dan pemikiran Islam berkemajuan dalam perspektif Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai gerakan islam yang berkemajuan perlu memperkaya atau mencerahkan orientasi tajdidnya baik yang bersifat purifikasi maupun dinamisasi sehingga terjadi moderasi sekaligus menajaman aktualisasi nilai-nilai islam dalam gerakan muhammadiyah. Islam berkemajuan yang di pahami oleh komunitas rumah tajdid profetik adalah islam yang berwatak pertengahan (wasadbiyah) atau bainatajwidwatajdid (tidak berada dalam satu kutup ekstrim aliran manapun baik kearah konservatifisme maupun liberalisme. 

Yang berhak menjadi pemimpin ummat adalah intelektual yang tercerahkan. Mereka adalah orang-orang yang terpanggil untuk memperbaiki nasib ummat dari ketertindasan, tanpa harus merasa takut dan kuatir terjadi kesewenang-wenangan atas mereka. Tidak semua intelektual adalah tercerahkan, hanya sebagian darinya yang benar-benar orang-orang yang tercerahkan, hanya sebagian orang yang tercerahkan karena mereka terpanggil dan berdiri untuk rakyat yang merindukan perubahan.(Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas).

LATAR BELAKANG

Ummat Islam Indonesia kini dalam konteks ke Acehan menghadapi tantangan bagaimana menampilkan wajah Islam yang humanis, sejuk dan ramah sehingga dapat menjadikan Islam rahmat bagi seluruh ummat manusia. Tantangan ini terwujud dengan menguatnya sekelompok ummat beragama atau kelompok ekstrim tertentu yang memiliki pemahaman ideologi yang sangat ekslusif dan sering kurang toleran terhadap paham keagamaan atau ideologi yang bebeda. Bahkan dalam praktek-praktek tertentu, pemahaman ini dipaksakan dengan pola-pola anarkis dan kekerasan. 

Retorika dan Praktik seperti ini merusak reputasi ummat Islam Indonesia, terutama dalam konteks ke Acehan. Dimana islam dikenal sebagai basis pencerahan, perdamaian, toleran dan humanis. Kesadaran ini menggugah komitmen sekelompok anak muda Komunitas Rumah Tajdid Profetik untuk memperkuat diri dalam kerja-kerja kajian filsafat dan keagamaan, dialog antar peradaban, dialektika teologi dan ideologi (sosial, politik, agama, hukum) dan juga percikan ide-ide lewat jurnal dan tulisan tentang gerakan tajdid dan pola dakwah tarnsformatif yang berorientasi pada pemikiran Islam berkemajuan, moderat, terbuka dan universal.

Slogan
Berpikir, Bertuhan, dan Membebaskan.

Blog, Updated at: 04.23
Pilih Mode Komentarmu (Facebook atau Blogger)
0 Blogger
Tinggalkan Komentar melalaui Blogger

0 komentar:

Posting Komentar