.

BUDAYAKAN TRADISI MENULIS

Dipublis Oleh :Rumah Tajdid Profetik on Sabtu, 25 April 2015

SUDARLIADI
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 
― Pramoedya Ananta Toer

Teriakan yang bercampur berbagai macam kemerduan menghiasi persimpangan jalan-jalan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Atas nama rakyat yang mereka kumandangkan. Mereka pun rela turun ke jalan demi mencari perhatian kepada orang-orang yang seharusnya memperhatikan nasib rakyat (pemerintah). Retorika yang sungguh agitatif menjadi penghangat suasana aksi. Mereka adalah sekumpulan orang yang berpredikat mahasiswa. Mereka adalah kaum intelektual muda dan calon pemimpin untuk perubahan. Sambut bersahut mengundang keasyikan para mahasiswa dalam meneriakkan keadilan. 

Seringkali kita dengar bahwasanya mahasiswa adalah orang-orang yang mempunyai nalar kritis yang luar biasa. Sejarahpun mencatat bahwa gerakan-gerakan mahasiswa mampu menjadi pelopor dalam setiap aksi membela rakyat, bahkan salah satu rezim otoritarian pernah berhasil diruntuhkan oleh gerakan mahasiswa. Di Indonesia memang mahasiswa mempunyai peran yang signifikan. Mahasiswa menjadi penyambung lidah bagi rakyat-rakyat yang termarjinalkan. Selain peran akademik, mahasiswa juga mempunyai peran moral, sosial dan juga politik yang harus senantiasa dilakukan. Dari semua itu pantaslah predikat “calon pemimpin bangsa” disematkan kepada mereka.

Orang yang pandai “bicara” ternyata tidak melulu berbanding lurus dengan kemampuannya dalam menulis. Ketika dihadapkan dengan dunia tulis menulis malah menjadi gagap tidak selancar saat dia berbicara (atau mungkin lebih tepatnya berteriak) saat melakukan aksi. Padahal akan menjadi suatu sinergitas yang hebat bilamana kemampuan lisan dipadukan dengan kemampuan lewat tulisan.

Menulis adalah berguna untuk mengikat wawasan dan ilmu yang kita dapatkan agar tidak lepas begitu saja. Lebih sering kita menulis akan lebih banyak ilmu dan wawasan yang kita ikat. Menulis juga ibarat sedang mengukir sejarah. Bisa jadi apa yang telah kita tuangkan dalam tulisan akan menjadi bukti sejarah. Suatu hari nanti para penerus kita menemukan tulisan-tulisan yang telah kita buat dan dijadikan referensi dalam menatap jejak kejadian-kejadian yang terjadi dimasa lalu dalam tulisan kita. Tulisan membuat kita akan dikenang oleh zaman dan juga bisa diwariskan cita-cita dan perjuangan kita kepada generasi penerus. Sebagai mahasiswa kita pasti mengenal seorang tokoh revolusi yaitu Ernesto Guevara. Dari catatan-catatan yang ditulisnya saat melakukan petualangannya berkeliling Amerika Selatan sampai dengan bagaimana akhirnya dia melakukan perjuangan dalam menyebarkan semangat revolusi. Dia adalah salah satu contoh seorang pemimpin yang menjadikan kegiatan menulis sebagai budaya. Banyak tokoh-tokoh pemimpin inspiratif di dunia melakukan hal yang sama, termasuk salah satunya bapak pendiri bangsa kita, Soekarno.

Soe Hok Gie, nama tersebut memang tidak asing dari kalangan kita kaum intelektual. Setiap dia duduk, berjalan, dan berdiskusi buku dengan pena tak lekang bersamanya. Dia sangat bisa menjadi inspirasi yang telah memberikan contoh bahwa menulis sejatinya adalah bersifat membebaskan. Banyak tulisan-tulisan nya menjadi kekuatan dan senjata bagi mahasiswa dalam berteriak atau berorasi di tengah-tengah kesunyian jalan. Tan Malaka juga salah satu penulis yang banyak mencerita tentang diri nya dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah dan juga memberikan semangat bagi generasi penerus. Walaupun nama dia pernah menghilang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tapi dengan kekuatan tulisannya, nama nya bangkit terpancar “Ingatlah, bahwa dari alam kubur suara saya akan lebih keras daripada di atas bumi”, Kata Tan Malaka. Selain itu ada lagi Tokoh yang juga sangat popular seperti Pramoedya Ananta Toer. Banyak kata-kata mutiaranya yang menjadi inspirasi untuk kaum muda dalam menjalani fenomena kehidupan ini.

Jadi, mulai sekarang buang lah kata-kata “saya tidak bisa menulis”, sebab kata tersebut adalah virus penyakit yang merusak diri dalam memulai menulis. Ada juga sebagian calon penulis takut dengan tulisannya yang jelek sebab tidak sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Namun sebenarnya itu bukanlah suatu masalah yang besar karena menulis itu sendiri adalah bersifat pembelajaran. Lewat kita belajar dan berproses untuk bisa menulis dengan sendirinya kita akan menemukan bahan pembelajaran bagi tulisan-tulisan yang kita buat. Dari yang mungkin asalnya acak-acakan karena lama-kelamaan menjadi terbiasa akhirnya mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut dan tulisan yang kita ciptakan semakin hari menjadi semakin baik.

Mari membudayakan menulis dalam kehidupan kita, jadikan ini sebagai tradisi mahasiswa si calon pemimpin bangsa. Ada banyak media yang bisa dijadikan tempat publikasi tulisan-tulisan kita. Saat ini teknologi berkembang pesat, taruh saja tulisan kita dalam fasilitas note di akun facebook kita atau yang sudah menjadi life style banyak orang semacam blog pribadi. Dengan begitu sebenarnya kita bisa lebih independen dan leluasa dalam menulis. Menulis itu sama sekali tidak sulit, asal ada kemauan dan motivasi untuk menulis. 

Tunggu apa lagi, ambil kan terus kesempatan menulis sebab itu adalah kekuatan untuk mencatat impian mu sehingga bisa di kenang dalam sejarah menjadi referensi bagi generasi penerus.

Selamat Menulis…………. !!!!





Tentang Penulis :

author-photo
Unknown merupakan salah satu Anggota Komunitas Rumah Tajdid Profetik yang menulis/mempublis tentang "BUDAYAKAN TRADISI MENULIS" pada tanggal Sabtu, 25 April 2015. Semoga tulisan tersebut menjadi referensi untuk kita semua.
Blog, Updated at: 10.48
Pilih Mode Komentarmu (Facebook atau Blogger)
0 Blogger
Tinggalkan Komentar melalaui Facebook
Tinggalkan Komentar melalaui Blogger

0 komentar:

Posting Komentar