.

Kepemimpinan dan Keteladanan

Dipublis Oleh :Rumah Tajdid Profetik on Sabtu, 18 April 2015

Oleh Taufik Riswan*


"Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam"
 (Q.S. Al Anbiya: 107). 

Ayat ini merupakan salah satu dari sekian ayat dan hadits yang menjelaskan tentang kepemimpinan. Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw, dan termasuk kita sebagai umatnya, diutus ke dunia untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya untuk umat Islam dan umat manusia. Hal ini berarti kita sebagi umat Islam juga harus bisa menjadi rahmat bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta. Menjadi rahmat bagi seluruh alam dapat diwujudkan dengan amar ma'ruf nahi munkar (Q.S. Ali lmron: 104), yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah dan perbuatan buruk. Perintah untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar mengharuskan kita mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi umat dalam rangka terlaksanakannya suatu perintah. Kemampuan itu diwujudkan dalam bentuk kepemimpinan, terutama untuk memimpin diri sendiri, keluarga, dan orang lain atau masyarakat luas.

Berbicara tentang kepemimpinan, maka kita harus ingat bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses harus dipersiapkan sejak awal. Kepemimpinan merupakan proses regenerasi yang berkesinambungan. Hal ini berarti generasi muda saat ini adalah pemimpin di masa depan. Karena itu kita harus mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pemimpin yang handal. Persiapan ini harus dilakukan sejak dini karena menyiapkan pemimpin berarti menyiapkan pribadi. Persiapan ini akan berpengaruh terhadap kepemimpinan seperti apa yang akan diterapkan oleh pemimpin tersebut.

Ada beberapa macam model kepemimpinan yang sering kita temui dalam kehidupan sebari-hari, diantaranya adalah kepemimpinan transaksional, kepemimpinan transformasional, dan kepemimpinan visioner. Pemimpin transaksional adalah pemimpin yang memandu atau memotivasi pengikut mereka dalam arah tujuan yang ditegakkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tegas. Pemimpin transformasional yaitu pemimpin yang memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang diindividualkan, dan yang memiliki karisma. Model kepemimpinan yang ketiga yaitu kepemimpinan visioner mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang atraktif, terpercaya, realistik tentang masa depan suatu organisasi atau unit organisasi yang terus bertumbuh dan membaik sampai saat ini. kepemimpinan visioner mempunyai tiga sifat yaitu adanya komunikasi visi, adanya perilaku nyata, dan memperluas visi pada konteks yang berbeda.


Ketiga model kepemimpinan tersebut akan efektif jika diterapkan pada situasi yang tepat dan berbeda satu sama lain, yaitu situasi yang sesuai dengan model kepemimpinannya. Kepemimpinan tentu diharapkan mampu mempengaruhi yang dipimpin untuk melakukan suatu tujuan. Pencapaian tersebut berarti ada amanah yang harus ditunaikan dan ada tanggungjawab yang harus diemban. Tanggung jawab merupakan hal mutlak yang harus disadari dan dipikul oleh setiap pemimpin. Rasulullah saw menyatakan dalam sebuah hadits bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Hal ini berarti bahwa setiap kita adalah pemimpin, minimal bagi diri kita sendiri, dan harus bertanggungjawab atas kepemimpinan kita.

Di samping tanggung jawab, hal penting lain yang harus ada dalam diri setiap pemimpin adalah keteladanan. Keteladanan ini berarti pemimpin harus mampu memberi contoh, menginternalisasi nilai-nilai luhur agama dalam kehidupannya sehingga orang lain akan melihat pemimpin tersebut sebagai sosok dengan akhlakul karimah atau pribadi yang baik. Keteladanan menuntut pemimpin tersebut untuk konsisten dalam menjalankan kepemimpinannya. Hal yang paling sederhana dari kekonsistenan ini adalah kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.

Keteladanan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan pribadi seseorang dan keberhasilan kepemimpinan. Salah satu ahli psikologi, Albert Bandura menyinggung tentang keteladanan dalam teorinya yang diberi nama Social Learning atau teori belajar sosial. Teori ini menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang berkembang melalui proses keteladanan, di mana orang belajar melalui observasi atau pengamatan terhadap perilaku orang lain terutama pemimpin. Istilah yang terkenal dalam teori belajar sosial adalah modelling (peniruan). Modelling lebih dari sekedar peniruan atau mengulangi perilaku pemimpin tetapi modelling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif. Secara sederhana keteladanan memerlukan penilaian bahwa perilaku tersebut baik sebelum seseorang memutuskan untuk meneladani. Melalui modelling ini kita bisa membentuk tingkah laku baru dan atau lama.

* Penulis adalah Pegiat Komunitas  Rumah Tajdid Profectik,
dan Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh.




Tentang Penulis :

author-photo
Unknown merupakan salah satu Anggota Komunitas Rumah Tajdid Profetik yang menulis/mempublis tentang "Kepemimpinan dan Keteladanan" pada tanggal Sabtu, 18 April 2015. Semoga tulisan tersebut menjadi referensi untuk kita semua.
Blog, Updated at: 01.27
Pilih Mode Komentarmu (Facebook atau Blogger)
0 Blogger
Tinggalkan Komentar melalaui Facebook
Tinggalkan Komentar melalaui Blogger

0 komentar:

Posting Komentar