Oleh : R u s m a n
![]() |
Ketua Umum PC. IMM Abdya
Tahun Amaliyah 2013-2014
|
Lemahnya gerakan mahasiswa bukan hanya berpengaruh kepada kurangnya pendampingan kebijakan politik, namun juga berimbas kepada pemahaman Tri Darma Perguruan Tinggi yang sejati. Satu sisi peran mahasiswa sangat dibutuhkan dalam pembangunan gerakan kekinian, namun apa yang bisa dikata karna prosudural institusi mahasiswa/kampus membuat gerakan menjadi lemah tak terarah. Bagaimana tidak, contohnya aturan mahasiswa sarjana atau S1 harus menyelesaikan kuliahnya maksimal lima tahun sesuai Permendikbut 49/2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dengan beban mata kuliyah 144 SKS yang harus diselesaikan oleh mahasiswa 8-10 Semester kalau tidak maka resikonya di drop-out (DO).
Di sisi lain, hampir semua mahasiswa hengkang dari dasar pemikiran idealist hanya karena alasan kemiskinan dan keraguan dalam menentukan nasib pribadi untuk masa yang akan datang dengan kata lain ”Apatis". Padahal trem kesejahtraan hanyalah bayang-bayang semata, idealnya keprihatinan ini menjadi koreksi para mahasiswa untuk melakukan perubahan melalui manuver-manuver gerakannya. Banyak gerakan-gerakan mahasiswa pada saat ini namun tidak lagi berpijak pada nilai-nilai luhur Tri Darma Perguruan Tinggi.
Disini, kita mencoba menganalisa gerakan organisasi otonom Muhammadiyah yang lahir pada tanggal 14 Maret 1964 M atau 29 Syawal 1384 H, Lembaga ini menghimpun para mahasiswa didalamnya, yaitu tak lain ialah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
IMM yang mempunyai trilogi gerakan yakni; Religiusitas Intelektualitas dan humanitas. Organisasi ini lahir di masa reformasi yang memiliki tujuan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah, sudah sepatutnya membantu meneruskan perjuangan Muhammadiyah yang tidak sedikit telah memberikan kontribusi untuk mendukung dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia seperti tokoh didalamnya Kahar Muzakir yang memberikan gagasan pada sila pertama Pancasila, Muhammad Darwis/ KH. Ahmad Dahlan dengan tekat bulat untuk mencerdaskan anak bangsa dari kebodohan lalu mendirikan Sekolah Muhammadiyah dan menjadikan salah satu sekolah alternatif pada masa agresi Hindia-Belanda.
Kini, tepat Pada tanggal ”14 Maret 2015” IMM telah berumur 51 Tahun, artinya sudah melewati setengah Abad. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terus berpikir positif dalam gerakannya untuk mengambil peran dan mengisi cita-cita Muhammadiyah pada masa kapanpun. Di abad 21 yang penuh tantangan ini peran dan pungsi kader tentunya yang harus dikedepankan untuk membawa IMM kembali menjadi organisasi bagi umat dan kader bangsa yang menjadi kembangaan dan harapan Muhammadiyah, Masyarakat dan Bangsa Indonesia. Buat apa berstatus Pengurus Komisariat, Pengurus Korkom, Pengurus Cabang, Pengurus DPD dan DPP apabila tidak dapat memberikan kemajuan bagi IMM.
Mencermati kondisi saat ini, khususnya tingkatan kepengurusan yang ada di Aceh dan Indonesia pada umumnya untuk segera mungkin melahirkan cara pandang baru yang lebih propisional terhadap sejarah masa lalu, sehingga dibutuhkan kacamata yang lebih jernih untuk memandang. Sejarah bukan untuk di mitoskan, prestasi masa lalu tidak untuk di sanjung-sanjung. Sejarah adalah pelita dan masa lalu adalah lilin penerang bagi masa yang akan datang, setidaknya semangat/”ghirah” untuk terus menggelorakan nilai-nilai perjuangan IMM dengan berperan secara nyata bagi umat dan bangsa senantiasa dipupuk dan di implementasikan. Hal ini bukan hanya sekedar berani tampil beda namum sanggup merumuskan gagasan-gagasan yang kreatif dan produktif bagi kebangkitan IMM.
Selamat Milad IMM-ku yang ke-51, Abadi Perjuangan Kami...!










